Edisi 258 Khutbah Jum’at : Menyambut Ramadan Dengan Merenungkan Nikmat Makanan

MENYAMBUT RAMADAN

DENGAN MERENUNGKAN NIKMAT MAKANAN

Ustadz Ibnu Abdil Bari

 

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ

 وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أما بعد

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ,يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat-Nya yang luas tanpa batas kepada kita semuanya, terutama nikmat Iman, Islam, keamanan, kesehatan dan kecukupan rezeki, sehingga kita bisa hadir ke masjid ini untuk menjalankan kewajiban ibadah shalat Jumat dengan mudah, aman dan nyaman.

Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi yang mulia, pemimpin para nabi dan rasul, Muhammad ﷺ, keluarganya , para sahabatnya dan kaum Muslimin yang mengikuti sunnah beliau dengan penuh kepatuhan, keikhlasan dan kesabaran hingga akhir zaman.

Kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita berusaha terus menerus untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala semaksimal kemampuan yang kita miliki kapanpun dan di manapun kita berada.

Semoga dengan ketakwaan tersebut, Allah Ta’ala berkenan menerima amal shaleh kita, memudahkan urusan kita, memberikan jalan keluar atas problem dan kesulitan kita, serta memberikan rezeki kepada kita dari arah yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya.

Jamaah shalat Jum’ah rahimakumullah

Bulan ramadan sudah ada didepan kita, dalam hitungan hari kita akan bertemu dengan tamu yang mulia. Bulan dimana kita diwajibkan untuk berpuasa menahan lapar dari fajar sampai maghrib.

Oleh karenanya dibulan sya’ban ini marilah kita merenungi nikmat makanan yang sehari-hari kita nikmati sebelum sebentar lagi kita akan berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga.

Sudah kita ketahui bahwa kebutuhan manusia kepada makanan merupakan kebutuhan primer demi kelangsungan hidupnya. Bahkan hampir setiap hari manusia memakan makanan pokok satu, dua bahkan tiga kali.

Meski demikian, betapa sering kita mengabaikan rahasia dibalik proses memakan makanan ini. Padahal ada hal-hal menakjubkan dibalik proses memakan ini.

Ada campur tangan yang begitu besar dan kekuasaan yang begitu indah dari Sang Pencipta, Allah ﷻ, dari setiap proses yang dilalui makanan hingga terhidang di hadapan kita.

Oleh karenanya, Allah secara khusus memerintahkan kita untuk merenungi makanan yang kita makan. Allah berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ ٢٤

Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS Abasa:24)

Ma’asyiral muslimin ‘arsyadakumullah

Perintah untuk memperhatikan makanan sebagaimana yang tertuang dalam surah Abasa ayat 24 di atas sejatinya mengantarkan kita untuk banyak bersyukur kepada Allah. Karena makanan yang tersaji adalah bagian dari nikmat Allah. Makanan yang siap santap ini sejatinya melalui proses yang begitu panjang, bahkan bisa berbulan-bulan lamanya.

Mari kita memperhatikan sejenak tentang nasi yang setiap hari kita makan. Nasi ini tidak hadir dalam waktu singkat. Ia melalui proses yang begitu panjang. Setidaknya nasi itu berasal beras dan beras itu berasal dari padi. Proses mulai dari benih padi hingga siap panen melewati beberapa tahapan. Yaitu, benih padi direndam, lalu disebar, kemudian ditanam. Baru setelah itu dilakukan penyiangan, diberi pupuk, dan dilindungi dari hama — baik berupa bereng (wereng hijau, wereng putih dan wereng coklat), keong mas, walang sangit, tikus dan burung.

Dalam semua proses itu, seorang petani setidaknya membutuhkan waktu empat bulan untuk bisa menanam hingga memanen hasil padinya.

Apakah padi yang dipanen kemudian bisa langsung dimakan? tidak.

Ia baru menjadi gabah, belum menjadi nasi. Gabah ini masih harus melalui beberapa proses; yaitu gabah harus dipisahkan dari batangnya; gabah harus dikeringkan; lalu digiling, lalu ia baru menjadi beras, dan untuk menjadi nasi, beras ini harus dibersihkan terlebih dahulu, dimasak dan ketika matang baru menjadi nasi.

MasyaAllah! lihatlah nasi yang setiap hari kita santap. Ternyata mengalami proses yang begitu rumit, dan sedemikian lama. Hal ini seharusnya menjadikan kita bersyukur kepada Allah, Sang Pemberi karunia. Karena Allah-lah yang memudahkan sebab-sebabnya hingga nasi itu bisa hadir di hadapan kita tanpa kesulitan yang berarti.

Hadirin sidang shalat Jum’ah hafizhakumullah

Makanan yang berasal dari tanaman dan tumbuhan, baik berupa biji-bijian, buah-buahan dan sayur-sayuran sejatinya mengandung pelajaran penting yang harus kita imani, yaitu bahwa yang bisa menumbuhkan tanaman dan tumbuhan tersebut adalah Allah semata.

Artinya, makanan ini sejatinya mengantarkan kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah. Karena Dialah yang mengatur semesta, termasuk tanaman dan tumbuhan yang hasilnya kita makan.

Allah ﷻ berfirman:

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ ٦٣ ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ ٦٤ لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ ٦٥ اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ ٦٦ بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ ٦٧

Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian. bahkan kami tidak mendapatkan hasil apa pun.” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 63-67)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa ketika seseorang menanam sebuah benih, maka ia hanya sekedar menanam saja, tetapi yang menumbuhkan benih tersebut hingga menjadi sebuah tanaman yang memiliki pangkal, dahan, ranting, daun dan buah-buahan adalah Allah semata.

Jika tanaman yang berbuah ini siap panen, maka Allah Mahakuasa menjadikan tanaman yang menghijau ini menjadi kering dan hancur. Lalu manusia akan heran dan menyesal atas semua kelelahannya selama ini, dan banyaknya biaya yang sudah ia keluarkan untuk mengurusi tanamannya.

Ia akan bergumam, “Sungguh aku telah rugi. Karena biaya yang sudah dikeluarkan tidak mendapatkan ganti (rugi). Bahkan aku tidak mendapat apa pun setelah hasil tanaman ini lenyap.”

Demikianlah. Perenungan kita terhadap makanan — utamanya yang berasal dari tanaman dan tumbuhan menyadarkan kita tentang keesaan Allah. Karena hanya Allah-lah yang mengatur tumbuhnya tanaman yang kita tanam.

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah

Surah Abasa ayat 24 yang berisi perintah untuk memperhatikan makanan yang kita konsumsi juga mengandung pelajaran tentang kehidupan akhirat. Bahwa peristiwa tumbuhnya tanaman yang menghasilkan makanan yang kita makan itu sama persis dengan peristiwa kebangkitan manusia dari kuburnya.

Oleh karenanya, Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini mengandung karunia berupa nikmat makanan, juga menjadi dalil (penunjuk) tentang dihidupkannya kembali tanaman-tanaman dari bumi yang telah mati, atas dihidupkannya kembali jasad-jasad setelah sebelumnya menjadi tulang-belulang yang rapuh dan tanah yang berhamburan.

Jadi, ada kemiripan antara tanaman yang tumbuh dari bumi karena guyuran hujan dengan peristiwa kebangkitan manusia dari kubur-kubur mereka. Hal ini bahkan ditegaskan Allah dalam firman-Nya yang lain:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ ٩ وَالنَّخْلَ بٰسِقٰتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيْدٌۙ ١٠ رِّزْقًا لِّلْعِبَادِۙ وَاَحْيَيْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۗ كَذٰلِكَ الْخُرُوْجُ ١١

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).” (QS. Qaf [50]: 9-11).

Artinya, peristiwa kebangkitan manusia dari kubur itu diserupakan Allah dengan kejadian tumbuhnya tanaman dari tanah (bumi). Sebagaimana tanaman bisa tumbuh dari dalam tanah, begitu pula kelak manusia dibangkitkan dari dalam tanah (bumi).

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah

Maka, mari kita luangkan sejenak waktu untuk merenungkan makanan yang hendak kita santap; bahwa Allah menciptakannya dengan kekuasaan-Nya dan memudahkannya dengan rahmat-Nya. Dan kita wajib taat dan bersyukur kepada-Nya serta menganggap buruk kemaksiatan dan kufur kepada-Nya.

Semoga Allah memberikan ilham kepada kita untuk mensyukuri setiap nikmat yang kita dapatkan, termasuk nikmat makanan yang setiap hari kita asup sebagai energi bagi tubuh.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ؛

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى :  وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخَوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُواْ رَبَّنَا إِنَّكّ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ.

اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاما

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ أَقِيْمُوا الصَّلَاة

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*