MENINGKATKAN SEMANGAT DALAM BEKERJA
Prananto, ST., MAP
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat-Nya yang luas tanpa batas kepada kita semuanya, terutama nikmat Iman, Islam, keamanan, kesehatan dan kecukupan rezeki, sehingga kita bisa hadir ke masjid ini untuk menjalankan kewajiban ibadah shalat Jumat dengan mudah, aman dan nyaman.
Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi yang mulia, pemimpin para nabi dan rasul, Muhammad ﷺ, keluarganya , para sahabatnya dan kaum Muslimin yang mengikuti sunnah beliau dengan penuh kepatuhan, keikhlasan dan kesabaran hingga akhir zaman.
Kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita berusaha terus menerus untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala semaksimal kemampuan yang kita miliki kapanpun dan di manapun kita berada.
Semoga dengan ketakwaan tersebut, Allah Ta’ala berkenan menerima amal shaleh kita, memudahkan urusan kita, memberikan jalan keluar atas masalah dan kesulitan kita, serta memberikan rezeki kepada kita dari arah yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan mandat sebagai khalifah atau wakil Allah untuk mengelola bumi.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS AL Baqarah: 30)
Tugas utama lain yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia adalah untuk mengabdi (beribadah) kepada Allah. Ayat yang secara tegas menyebutkan hal ini adalah Surah az-Zāriyāt/51: 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa tugas yang diemban oleh manusia dalam hidup di dunia ini adalah untuk menjadikan segala aktivitas hidupnya bernilai ibadah. Tentu saja dalam hal ini termasuk bekerja dalam kapasitas apa pun.
Kalau bekerja adalah sebagai salah satu ekspresi beribadah, maka sebagai seorang Muslim tentunya tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan dan waktu yang ada kecuali akan diisi dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat menghasilkan karya-karya terbaik sebagai persembahan pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Secara lebih rinci lagi dalam ayat lain dikemukakan bahwa ibadah yang dilakukan tersebut harus benar-benar dilandasi niat yang ikhlas. Hal Ini diisyaratkan dalam firman Allah:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar) (QS Al Bayyinah:5)
Kalau syarat diterimanya ibadah adalah harus ikhlas, maka bekerja sebagai ekspresi ibadah juga sudah sewajarnya harus dilandasi dengan hati yang ikhlas. Bekerja dengan ikhlas berarti memaksimalkan seluruh potensi dan kemampuan untuk dapat mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari perspektif ini terlihat bahwa dalam Islam tidak ada istilah pekerjaan rendahan atau bergengsi. Semua bentuk kerja akan dinilai baik tergantung niat dan cara melaksanakannya.
Yang tidak kalah penting, dalam bekerja juga harus dengan semangat yang tinggi. Semangat inilah yang menjadi fokus untuk ditingkatkan dan itulah yang disebut etos kerja.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk agar seorang muslim dapat meningkatkan etos kerja, di antaranya adalah:
- Manajemen Waktu
Seorang Muslim dituntut untuk dapat mempergunakan waktu seefektif mungkin untuk dapat diisi dengan segala bentuk aktivitas yang baik, terlebih apabila sedang mengerjakan suatu pekerjaan. Berkali-kali kita temukan ayat yang berisi sumpah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menggunakan waktu seperti, wal-‘ashri, wadh-dhuhā, wal-laili, wannahāri dan lain-lain. Hal ini mengandung pesan bahwa setiap orang yang ingin sukses harus dapat mempergunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu adalah modal terbaik. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ٧ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨
“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah! (QS Asy Syarh : 7-8).
Ayat tersebut memberi isyarat seorang yang ingin meraih keberhasilan dalam usahanya maka tidak ada waktu yang disiasiakan untuk berlalu begitu saja tanpa menghasilkan suatu karya yang bermanfaat. Karena apabila selesai suatu pekerjaan segera disusul dengan pekerjaan lain yang baik dengan sungguh-sungguh.
Dan apabila satu tahap telah selesai maka segera kerjakan tahap selanjutnya dengan bersungguh-sungguh. Inilah salah satu petunjuk yang amat jelas bahwa seorang Muslim dalam bekerja harus memiliki etos yang tinggi.
- Bekerja Sesuai Bidang Dan Kompetensinya
Etos kerja seseorang akan berlipat apabila pekerjaan yang dia lakukan memang pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Tidak kalah pentingnya pula orang tersebut memang menginginkan pekerjaan itu. Apabila seseorang melakukan pekerjaan yang bukan bidangnya, apalagi kalau tidak memiliki kompetensi, jangan harap akan dapat memperoleh hasil yang maksimal, yang ada justru kegagalan. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah:
قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا ࣖ ٨٤
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka, Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS Al Isra:84)
Ayat ini memberi isyarat bahwa setiap orang telah dianugerahi oleh Allah potensi dan kecenderungan tertentu, dalam bahasa modern bisa disebut dengan talenta atau bakat. Seseorang yang dapat dengan baik mengenali dan menggali potensi anugerah Allah tersebut kemudian dapat mewujudkan dalam bentuk kecakapan dan kompetensi dalam bidang tertentu, bukan suatu yang sulit bagi orang tersebut untuk dapat meningkatkan etos kerja dan meraih hasil yang maksimal.
- Pekerjaan yang dilakukan tidak boleh menjadikan lupa kepada Allah
Sekeras apa pun orang bekerja, setinggi apa pun etos kerja yang dimiliki, tidak boleh menjadikan lupa kepada Allah subh}ānahu wa ta‘ālā. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٩
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al Jumu’ah:9)
Yang dimaksud jual beli dalam ayat tersebut adalah mencakup seluruh aktivitas atau pekerjaan manusia. Maka apa pun aktivitas atau pekerjaan yang dilakukannya tidak boleh melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayat tersebut ditutup dengan pernyataan Allah, “Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Hal ini mengisyaratkan bahwa boleh jadi ada orang yang tetap bekerja dengan etos yang tinggi tanpa peduli dengan aturan-aturan Allah, maka hal ini jelas akan merugikan dirinya sendiri. Karena hasil pekerjaan tersebut tidak akan membawa kebahagiaan hidupnya di dunia apalagi di akhirat. Yang terjadi justru sebaliknya, orang akan mengalami kecanduan kerja, dan itu akan berakibat tidak baik bagi keseimbangan hidupnya.
- Etos kerja yang tinggi tidak boleh melupakan shalat dan zakat
Ibadah salat adalah bagian dari teknis dan mekanisme yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar manusia tetap dapat memelihara komunikasi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sesibuk apa pun seseorang kalau ingin hidupnya diberkahi dan bahagia maka harus tetap memelihara salatnya. Setelah memperoleh hasil dari pekerjaannya dituntut untuk memberikan hak-hak saudaranya yang kurang beruntung (fakir miskin) dengan membayar zakat. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah:
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِ ۙيَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ ۙ ٣٧
“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).” (QS An Nur:37)
Dari rambu-rambu di atas yang paling penting untuk diperhatikan adalah tidak boleh melakukan pekerjaan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau yang dilarang oleh Allah tetap dikerjakan, akan membawa kehancuran bagi individu orang tersebut juga bagi masyarakatnya, misalnya dengan melakukan perjudian dan bentuk-bentuk kecurangan lainnya. Salah satu ayat yang menjelaskan hal ini adalah Surah al-Mā’idah/5: 90-91
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٩٠ اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ ٩١
- Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
- Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Demikianlah khutbah singkat pada siang hari ini tentang meningkatkan semangat dalam bekerja.
Semoga kita semua dikaruniai kesadaran yang kuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa meluruskan niat kita dalam bekerja.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىِّ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِوَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اَللهُمَّرَبَّنَا ظلمناأَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَالْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَاصِغَارًا
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّاِ وَقِنَا عَذَابَالنَّار,وَقِنَاعَذَابَ النَّارِ,سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَاللهِ.إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِوَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْلَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ



Leave a Reply