Edisi 250 Khutbah Jum’at : Berbuat Baik Untuk Diri Sendiri

BERBUAT BAIK UNTUK DIRI SENDIRI

Ustadz Ibnu Abdil Bari

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ,يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT  dimana kita masih dipertemukan oleh-Nya di hari yang mulia ini, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan oleh Allah SWT yakni di masjid. Bersama dengan orang-orang yang Insyallah juga ditinggikan derajatnya di sisi Allah, yakni orang-orang yang bertakwa.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurah limpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, bersama keluarga, sahabat, dan umatnya.

 

Sebagai khatib saya mengajak pada diri saya dan seluruh jamaah shalat jum`at sekalian, Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nyadan menjauhi larangan-larangan-Nya dimanapun dan kapanpun.  Semoga kita kelak dimasukkan surga Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. Aamiin

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pada hari yang mulia lagi agung ini, marilah sejenak kita merenungi satu kaidah penting yang Allah abadikan di dalam Al-Qur’an tentang kebaikan dan kejahatan, yaitu firman-Nya dalam Surah Al-Isra’ ayat 7:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ ….

Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. ….

Makna ayat ini adalah jika kalian berbuat baik dengan melakukan ketaatan-ketaatan, maka sungguh kalian telah berbuat baik kepada diri kalian sendiri karena keberkahan ketaatan-ketaatan itu akan menjadi sebab Allah membukakan pintu-pintu kebaikan dan keberkahan,

sebaliknya, jika kalian berbuat keburukan dengan melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, maka sungguh kalian sejatinya telah berbuat jahat kepada diri kalian sendiri, karena kesialan kemaksiatan-kemaksiatan tersebut akan menjadi sebab Allah membukakan pintu-pintu hukuman. (Ar-Razi, Al-Mafatih, 20/ 301).

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah…

Surah Al-Isra’ ayat 7 di atas mengandung faedah tentang motivasi dan anjuran untuk berbuat baik, baik dalam beribadah kepada Allah maupun dalam berinteraksi dengan manusia.

Faedah ini diambil dari ayat,

Jika kalian berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk diri kalian sendiri.”

Maksudnya, sesiapa yang berbuat baik, sesungguhnya ia telah berbuat baik untuk dirinya sendiri. Karena manfaat dan pahala dari kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri. (Al-Lāhimi, ‘Aun Ar-Rahman, 13/ 34).

Ini tentunya menjadi penyemangat kita di dalam beramal salih, karena kebaikan yang kita lakukan tidak akan hilang sia-sia, Allah akan mencatatnya dan membalasnya dengan kebaikan pula, pun yang melihatnya, Allah berfirman tentang salah satu nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya,

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

“(Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahateliti. (QS Luqman : 16)

Ayat ini mengandung motivasi untuk beramal salih sekaligus ancaman dari berbuat kejahatan, sekecil apapun itu. Karena Allah pasti akan memberikan balasan.

Kebaikan dibalas dengan kebaikan, kejahatan dihukum dengan kejahatan.

Sekalipun kebaikan dan kejahatan itu hanya seberat biji sawi yang sangat kecil. Bahkan sekalipun kebaikan dan kejahatan seberat biji sawi itu berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi.

Karena memang Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Tidak ada kebaikan yang luput dan tidak ada kejahatan yang ditambah-tambahi.

Ma’asyiral muslimin yahdikumullah…

Surah Al-Isra’ ayat 7 di atas juga mengandung pelajaran tentang peringatan dari berbuat kejahatan, yaitu dengan menyelisihi perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, serta menyakiti hamba-hamba-Nya.

Hal ini ditunjukkan oleh kata-kata, “Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk diri kalian sendiri.”

Maksudnya, jika kalian berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu akan kembali kepada diri kalian sendiri. (Al-Lāhim, ‘Aun Ar-Rahman, 13/ 34).

Ya, siapa yang berbuat jahat, maka kerugian dari kejahatan itu hanya kembali kepada pelakunya.

Hal ini berlaku pada jenis kejahatan apapun, baik terkait hak Allah maupun hak manusia.

Maka, sesiapa yang memilih kekufuran, maka kerugian dari kekufuran itu akan kembali kepada dirinya sendiri, sesiapa yang memilih kesesatan, maka kerugian dari kesesatan itu akan kembali kepada dirinya sendiri, sesiapa yang memilih jalan kefasikan, maka kerugian dari kefasikan itu akan kembali kepada dirinya sendiri, sesiapa yang memilih kemaksiatan, maka kerugian dari kemaksiatan itu akan kembali kepada dirinya sendiri.

Kerugian dan kesialan dari memilih kejahatan ini memang nyata. Betapa banyak orang yang mendapatkan kerugian dan kesialan dari kejahatan yang dilakukannya.

Oleh karenanya, ada seorang salaf yang menuturkan pengalamannya, “Ketika aku ber-maksiat, maka aku langsung melihat dampaknya pada perubahan sikap istri, keluarga, dan hewan tungganganku.”

Bagaimana jika seseorang melakukan kejahatan beraneka rupa tetapi ia tidak pernah merasa dihukum?

Imam Ibnul Jauzi justru berkata:

إِنَّ أَعْظَمَ الْعُقُوْبَةِ أَنْ لَا تَدْرِيْ بِالْعُقُوْبَةِ

Sungguh, hukuman terberat atas suatu dosa adalah ketika pelakunya tidak merasa dihukum,” (*Shaid Al-Khathir*, hlm. 203).

Karena dengan demikian, ia telah ‘dilupakan’ Allah, dan dibiarkan terjerembab dalam jurang dosa dan maksiat yang membinasakan. Hingga ia pun sulit untuk bertaubat karena tidak merasa berdosa.

Nas’alullah al-afiyah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ayat di atas juga berisi satu pelajaran penting, yaitu masing-masing orang akan dibalas sesuai dengan amalnya, baik dan buruk.

Hukuman kejahatannya akan diberikan kepada pelakunya, dan balasan kebaikannya tidak akan diberikan kepada orang lain. Kebaikan yang dilakukannya tidak akan diberikan kepada orang lain, dan dosa dari kejahatannya juga tidak akan ditimpakan kepada orang lain. (Al-Lāhim, ‘Aun Ar-Rahman, 13/ 34).

Atau dengan kata lain, para ulama mengistilahkannya dengan kalimat, “Al-Jaza’ min jinsil ‘amal” yang bermakna, balasan itu disesuaikan dengan jenis perbuatan. Kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dihukum kejahatan.

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah…

Untuk lebih memahami kaidah Al-Qur’an dalam firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 7 dan kaidah “Al-Jaza’ min jinsil ‘amal“, mari kita menyaksikan kisah menakjubkan yang dituturkan oleh Al-Asma’i.

Al-Asma’i menuturkan bahwa ada seorang Arab Badui yang bercerita kepadanya, “Suatu kali aku keluar dari kampungku untuk mencari orang yang paling durhaka kepada orangtuanya dan orang yang paling berbakti kepada orangtuanya. Maka, aku berkeliling dari kampung ke kampung.

Hingga aku mendapatkan seorang yang sudah tua, dilehernya ada kalung tali yang digantungi ember berisi air yang apabila diusung unta pun terasa berat. Dan itu terjadi pada siang hari yang sangat terik. Di belakang orang tua itu ada seorang pemuda yang tangannya menggenggam tali melingkar yang terbuat dari kulit. Tali itu ia gunakan untuk mencambuk orang tua itu. Punggung orang tua itu babak belur karena cambukan itu.

Aku pun berkata, “Tidakkah kamu takut kepada Allah dalam memperlakukan orang tua yang lemah ini? Tidakkah cukup bagimu membebaninya dengan tali di lehernya, mengapa kamu masih juga mencambuknya?”

Dengan ringan dia berkata, “Bahkan dia adalah ayahku sendiri!” Aku berkata, “Allah tidak akan mem-balasmu dengan kebaikan.” Dia berkata, “Sudahlah, jangan ikut campur, beginilah dia dahulu juga memperlakukan ayahnya dan beginilah pula ayahnya dahulu memperlakukan kakeknya.” Aku berkata, “Inilah orang yang paling durhaka.”

Al-Asma’i melanjutkan kisah Badui tersebut, “Kemudian aku berkeliling lagi, hingga bertemu dengan seorang pemuda yang mengalungkan keranjang di lehernya. Di dalam keranjang itu ada orang yang sudah tua, keadaannya lemah seperti bayi. Pemuda itu menggendongnya dengan kedua tangannya setiap saat, dia juga mencebokinya seperti menceboki anaknya.

Lalu aku bertanya, ‘Ada apa ini?’ Pemuda itu menjawab, ‘Ini adalah ayahku, beliau telah pikun, dan aku yang merawatnya.’ Maka aku katakan, ‘Inilah orang yang paling berbakti.’ (Al-Baihaqi, Al-Mahasin wa Al-Masawi, hlm. 235).

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah…

Kisah di atas menggambarkan betapa perilaku seseorang akan membuahkan hasil yang semisal, atau sepadan dengan apa yang dilakukannya.

Orang Arab mengatakan, “Fakama tadinu tudan” yang berarti sebagaimana kamu berbuat, maka begitu pula kamu akan diberi balasan. Atau kaidah yang dipopulerkan oleh para ulama, “Al-Jaza’ min jinsil ‘amal” yang bermakna balasan itu sepadan dengan perbuatan.

Bahkan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan bahwa lebih dari seribu tempat di dalam Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa hasil baik yang didapatkan manusia itu adalah buah dari kebaikan yang dilakukan, sedangkan  kesialan dan keburukan itu juga merupakan hasil dari keburukan yang telah dilakukannya.

Ma’asyiral muslimin arsyadakumullah…

Semoga melalui khutbah Jum’at ini kita semakin meya-kini kebenaran firman Allah di atas bahwa kebaikan yang kita lakukan sejatinya manfaatnya kembali kepada kita, begitu pula seba-liknya, kejahatan yang kita lakukan sejatinya dampaknya juga akan kembali kepada kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah II

  اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا  اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,   اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعلى آله وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

 أيها الناس، اتقوا الله، وافعلوا الخيرات، واجتنبوا السيئات. إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اله وَصَحْبِهِ أجمعين وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،إِنَّكَ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ.

ربَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ –

  سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. عِبَادَاللهِ! إ أَقِيْمُوا الصَّلَاة.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*