Edisi 269 Khutbah Jum’at : Mewaspadai Lemahnya Generasi Penerus Kita

MEWASPADAI LEMAHNYA GENERASI PENERUS KITA

Prananto bin Sudjono

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ,يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah

Marilah kita senantiasa memanjatkan  rasa syukur kita  kepada Allah SWT yang masih melimpahkan nikmat kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang menjadi uswatun hasanah di dalam kehidupan kita.

Selaku khatib mewasiatkan kepada diri pribadi khatib dan kepada jama’ah shalat Jum’at sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa.

 

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah

Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan pembinaan generasi penerus. Di antara bentuknya adalah adanya peringatan dari Allah kepada kaum muslimin untuk tidak meninggalkan generasi-generasi yang lemah. Allah ﷻ berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

*“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”* (QS. An-Nisâ’ : 9)

Ayat di atas berisi peringatan Allah kepada kaum muslimin agar jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah. Larangan ini tidak hanya ditujukan kepada orangtua yang memiliki anak, tetapi juga para pendidik yang memiliki anak didik.

Kelemahan yang dimaksud dalam surah An-Nisâ’ ayat 9 di atas bersifat umum, berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan. Namun pada kesempatan kali ini kita hanya akan membahas kelemahan dalam tiga hal, yaitu lemah dalam bidang akidah, lemah dalam bidang ibadah, dan lemah secara intelektualitas (keilmuan).

Ma’asyiral muslimin ‘arsyadakumullah

Kelemahan pertama yang harus kita waspadai pada generasi sepeninggal kita adalah kelemahan dalam perkara akidah.

Hal ini harus menjadi perhatian kita secara serius. Karena akidah adalah kewajiban pertama seorang muslim. Jika akidah ini kuat, maka seseorang akan kuat menghadapi tantangan zaman, seberapa pun rusaknya zaman itu. Sebaliknya jika akidah ini rapuh, maka ia akan terombang-ambing oleh berbagai pemikiran sesat dan menyesatkan, dan tidak punya pendirian.

Padahal penanaman akidah pada generasi lanjutan ini merupakan pelajaran pertama yang diajarkan oleh orang-orang shalih dan para nabi.

Luqman Al-Hakim misalnya, beliau selalu menanamkan akidah sejak dini kepada anak-anaknya, sebelum perkara yang lain. Allah berfirman:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِاِبْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar’.” (QS. Luqmân : 13)

Penanaman akidah yang benar juga dicontohkan oleh Nabi Ya’qub عَلَيْهِ السَّلَامُ. Tepatnya ketika beliau hendak meninggal dunia, beliau ingin memastikan bahwa anak-anaknya memiliki akidah yang benar. Beliau bertanya dan diabadikan oleh Allah:

… مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْ ۗ …

“Apa yang akan kalian sembah nanti sepeninggalku?”

Anak-anaknya dengan tegas menjawab:

… نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤئِكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

“Kami akan menyembah Rabbmu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133)

Wasiat Lukman Al-Hakim dan kisah Nabi Ya’qub عَلَيْهِ السَّلَامُ bersama anak-anaknya menggambarkan perhatian dan kepedulian yang serius dari orangtua kepada generasi penerusnya. Ini mengandung pelajaran berharga agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah akidahnya.

Hadirin sidang Jum’ah hafizhakumullâh

Kelemahan kedua yang hendaknya kita khawatirkan pada generasi setelah kita adalah kelemahan dalam urusan ibadah.

Maksudnya, mereka tidak memiliki perhatian kepada ibadah; utamanya shalat. Mereka menyia-nyiakan shalatnya sehingga larut dalam syahwat-syahwat yang menguasai mereka.

Fenomena generasi yang lemah ibadah dan shalat ini sudah lama disinggung oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

*“Kemudian datanglah setelah mereka (generasi) pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.”* (QS. Maryam [19]: 59)

Solusi untuk mengatasi kelemahan ibadah ini, utamanya shalat adalah hendaknya kita senantiasa menghadirkan pendidikan ibadah dalam keluarga. Di antara bentuknya adalah memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Perintah ini bahkan diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad ﷺ. Allah berfirman:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat, dan sabar dalam mendirikannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu. Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”* (QS. Thâhâ [20]: 132)

Ma’asyiral muslimin ‘arsyadakumullah

Kelemahan ketiga yang hendaknya kita waspadai ada pada generasi penerus kita adalah kelemahan dalam bidang ilmu.

Maka, agar generasi penerus kita tidak lemah ilmunya, kita sebagai orangtua harus menanamkan dalam jiwa anak tentang kewajiban menuntut ilmu hingga akhir hayat. Utamanya adalah ilmu syar’i yang akan membimbing mereka untuk memiliki akidah yang lurus, ibadah yang benar dan akhlak yang mulia. Bahkan ilmu syar’i inilah yang akan menuntun mereka kepada amal-amal shalih yang diridhai oleh Allah ﷻ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Firman Allah dalam Surat An Nisa ayat 9  ini tidak hanya berisi peringatan untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, tetapi juga memberikan solusinya.

Di antara solusi agar keturunan kita tidak lemah adalah dengan bertakwa kepada Allah. Ini ditunjukkan oleh ayat, “Fal yattaqullâh, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah.”

Maka, ketika mengomentari ayat di atas, Imam Al-Qusyairi رحمه الله menegaskan bahwa di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa seorang Muslim seyogianya meninggalkan pusaka berupa ketakwaan dan keshalihan untuk keluarganya, bukan harta.

Karena di dalam ayat ini Allah tidak berfirman, “Hendaklah mereka mengumpulkan harta, memperbanyak tanah (rumah) untuk mereka, serta meninggalkan perabotan rumah.”  Tetapi Dia berfirman “Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah.” Karena Dialah yang akan menjaga orang-orang shalih

Ini menunjukkan bahwa warisan terbaik dari seorang ayah dan seorang pendidik bagi anak mereka adalah ketakwaan, bukan yang lain.

Semoga Allah SWT menjadikan anak-anak kita generasi yang kuat aqidahnya, ibadahnya dan ilmunya, melindungi kita dari siksa neraka, mewafatkan kita dalam keadaan menjadi seorang muslim dan mengumpulkan kita bersama para shalihin. Aamiin

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ؛

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى :  وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخَوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُواْ رَبَّنَا إِنَّكّ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَـنَا  مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاما

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ أَقِيْمُوا الصَّلَاة

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*