Edisi 166 Khutbah Jum’at : Hindari Enam Perkara Perusak Ukhuwah Islamiyah

HINDARI ENAM  PERKARA

PERUSAK UKHUWAH ISLAMIYAH

 

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Limpahan rasa syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita sehingga pada kesempatan ini kita bisa merasakan nikmatnya hidup, sehat dan konsisten dalam keimanan dan keislaman kita. Syukur pula kita panjatkan kepada-Nya yang telah menakdirkan kita hidup di Indonesia, negeri yang aman, damai, sentausa dengan bangsanya yang murah senyum, penuh kasih, toleran dan mengutamakan persatuan serta persaudaraan.

Salawat beserta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah mengajari kita bahwa kita semua, sesama muslim adalah bersaudara.

 

Marilah dalam kesempatan mengawali bulan Syawal 1445 H/2024 M ini, kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SAW. dengan senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dan berusaha secara maksimal meninggalkan segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hidup dalam suasana penuh keakraban dan harmoni di antara sesama muslim adalah nikmat dan anugerah terindah dalam kehidupan kita sekaligus menjadi ikatan yang memperkokoh persatuan masyarakat secara luas.

Suasana ini sangat kita rasakan selama kita menjalani ibadah dibulan ramadhan kemarin dengan melaksanakan Shalat Jama’ah dimasjid, berbuka puasa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan Idul Fitri dibulan Syawal dengan saling memaafkan dan saling mengunjungi untuk menyambung tali persaudaraan.

Kita menjadi ingat akan perintah Allah Ta’ala:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al Hujurat: 10]

Tidak salah para ulama salaf memberikan penilaian sangat tinggi terhadap nikmat ini. Hal yang paling lezat dalam kehidupan di dunia ini setelah iman dan amal shalih adalah bertemu dengan saudara yang dicintai karena Allah.

Imam Muhammad bin Al-Munkadir (seorang ulama tabi’in yang terkenal zuhud) pernah ditanya,”Apa yang tersisa dari kelezatan duniamu?” Beliau menjawab,

الْتِقَاءُ الْإِخْوَانِ، وَإِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَيْهِمْ. /كذا في حلية الأولياء

Perjumpaan dengan ikhwan (saudara seiman) dan memasukkan kegembiraan ke dalam hati mereka.”

Imam Muhammad bin Idris Asy-syafi’i rahimahullah, pendiri madzhab Syafi’i pernah mengatakan,

لَوْلَا القِيَامُ بِالأَسْحَارِ، وَصُحْبَةُ الأَخْيَارِ، مَا اخْتَرْتُ البَقَاءَ فِي هَذِهِ الدَّارِ

Kalau bukan karena bangun untuk beribadah di waktu sahur, dan bersahabat dengan orang-orang pilihan, aku tidak memilih untuk tetap hidup di dunia ini.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila sedemikian bernilainya ukuwah Islamiyah dalam kehidupan kita di dunia ini maka hendaklah kita berusaha keras untuk menjauhi segala sikap, perkataan dan perbuatan yang bisa merusak hubungan, memutus persaudaraan dan memadamkan rasa cinta dan kasih sayang karena Allah di dalam hati kaum muslimin.

Tidak ada yang lebih senang dari rusak, pudar dan sirnanya ukhuwah Islamiyah di antara kaum muslimin melebih setan. Dan tidak ada yang lebih diuntungkan dari kondisi semacam ini melebihi musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, musyrik dan munafik.

Sebab, tidak ada kekuatan yang lebih mereka takutkan dari kaum muslimin melebihi persatuan yang kokoh di antara mereka. Ukhuwah yang lemah dan rusak menjadi pembuka jalan untuk menguasai kaum muslimin dan bahkan menghancurkan eksistensi mereka. Dan inilah yang sudah terjadi sepanjang sejarah Islam yang panjang.

Oleh karena itu, hendaklah kita tidak memberikan bantuan secara sukarela kepada setan dan orang-orang yang memusuhi kaum muslimin dalam bentuk melakukan hal-hal yang bisa merusak hubungan dan ukhuwah di antara kaum muslimin, baik kita menyadarinya atau tidak.

  1. Tamak Terhadap Dunia

Maksudnya di sini adalah bersikap tamak terhadap dunia yang dimiliki oleh saudara sesama muslim.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ memberikan nasehat kepada seseorang dengan bersabda,

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

Bersikap zuhudlah di dunia, Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain maka orang-orang akan mencintaimu.”

Salah satu pelajaran dari hadits ini adalah manusia itu tidak menyukai siapa saja yang meminta dari mereka dan meminta sesuatu yang mereka miliki.

Siapa saja yang sangat menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain, berarti dia telah merusak ukhuwah tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Thaha: 131]

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama Tabi’in, berkata,

Hendaklah Anda terus bermurah hati kepada orang lain, maka orang akan senantiasa menghormati Anda selama anda tidak mengambil apa yang ada di tangan mereka, dan jika Anda melakukannya, mereka meremehkan Anda, membenci ucapan Anda, dan membenci Anda.”

  1. Kemaksiatan Dan Kemungkaran

Termasuk didalamnya mengabaikan kewajiban, ketaatan dan amalan-amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena tujuan dari ukhuwah adalah saling menolong di atas ketaatan dan amalan kebaikan serta meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran.

Nabi Musa ‘alaihis salam pernah memohon kepada Allah Ta’ala sebagaina dikisahkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28) وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي (29) هَارُونَ أَخِي (30) اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (31) وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (32) كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا (33) وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (34) إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا (35)

Musa berkata, ”Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku; dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” [Thaha: 25-35]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda,

المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ؛ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فَفُرِّقَ بَيْنَهُمَا، إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

Seorang muslim adalah saudara muslim (yang lain). Dia tidak akan menzhaliminya dan tidak pula mentelantarkannya.”

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah dua orang Muslim itu saling mengasihi kemudian keduanya terpisah kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah satu dari keduanya.”

Di antara pengaruh buruk maksiat adalah adanya perasaan terputus dan menjauhnya perasaan kasih sayang dari manusia yang didapati oleh pelaku maksiat terhadap saudara-saudaranya, sampai perasaan semacam itu memutus ikatan ukhuwah tersebut.

Sesungguhnya orang yang memutus hubungannya dengan Allah Ta’ala maka pasti dia memutus hubungannya dengan para orang-orang senantiasa bersama Allah Ta’ala. Semoga Allah merahmati orang yang berkata, ”Apa saja yang karena Allah maka hal itu akan bersambung dan apa saja yang karena selain Allah maka akan terputus.”

Coba kita timbang diri kita masing-masing dengan timbangan kebenaran. Mari kita lihat apakah hati kita merasa senang dan lapang ketika kita berjumpa dengan saudara-saudara kita yang memiliki kesungguhan dari kalangan orang shalih dan bertakwa ataukah kita merasa berat dan sempit dada saat berjumpa dengan mereka?

Hubungan di antara orang-orang yang suka melakukan maksiat dan kemungkaran itu dibangun di atas pelanggaran syariat dan meninggalkan berbagai kewajiban agama. Pertemanan dan persaudaraan orang-orang semacam ini akan berbalik menjadi permusuhan karena pertemanan dan persaudaraan tersebut tidak dibangun di atas ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [At-Taubah: 109]

Hal ini di dunia, sedangkan di akhirat nanti, mereka akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]

Ukhuwah orang-orang bertakwa di dunia ini akan terus berlanjut, kekal abadi hingga sampai ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. [Al-Hijr: 47]

  1. Tidak Berpegang Teguh Dengan Adab Berbicara Dalam Islam

Berbicara dengan saudaranya tanpa berpegang dengan adab-adab islami dalam berbicara adalah Perusak ukhuwah yang ketiga. Kerusakan dalam berbicara akan menyebabkan kerusakan ukhuwah.

Allah Ta’ala dengan keutamaan-Nya telah mengajari kita cara berbicara dengan orang lain khususnya dengan saudara sesama muslim.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: ”Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [Al-Isra’: 53]

Ya, setan memancing di air keruh. Seseorang melontarkan ucapan yang tidak dia pertimbangkan terlebih dahulu namun mengandung banyak kemungkinan makna. Kemudian setan mengeksploitasi ungkapan tersebut sehingga menimbulkan kerusakan hubungan di antara sesama saudara muslim.

Oleh karena itu, orang-orang yang saling mencintai karena Allah mesti memilih perkataan terbaik sebagaimana memilih makanan terbaik. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Perkataan yang baik itu sedekah.”

Di antara arahan Lukman Al-Hakim ‘alaihis salam kepada anaknya adalah:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [Lukman: 19]

  1. Berlebihan Dalam Bercanda Hingga Taraf Bersikap Lancang

Berlebihan dalam bercanda hingga taraf bersikap lancang terutama kepada orang-orang yang memiliki keutamaan merupakan perkara keempat yang merusak ukhuwah Islamiyah. Oleh karena itu, para ahli hikmah berkata,

كَثْرَةُ المُزَاحِ تُجَرِّئُ السُّفَهَاءُ، وَتُسْقِطُ الهَيْبَةَ.

Banyak bercanda itu akan membuat orang-orang bodoh bersikap lancang (keterlaluan) dan meruntuhkan kewibawaan.”

Memang Rasulullah ﷺ dulu bercanda dengan para sahabatnya, namun candanya beliau itu sedikit saja, relevan, jujur, tidak mengandung hal yang melukai perasaan dan tidak pula penghinaan dan pelecehan.

Banyak bercanda itu terkadang mengakibatkan perpecahan di antara orang-orang yang saling mencintai dan menyebarkan kebencian di antara mereka. Dan apa saja yang mengakibatkan hal seperti itu maka secara syar’i dilarang, karena mencegah kerusakan itu lebih diprioritaskan dibanding meraih kemaslahatan.

Banyak bercanda merupakan sebab terbesar dari sekian sebab perangkap setan dalam memunculkan permusuhan dan kebencian di antara saudara sesama Muslim. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). [Al-Maidah: 91]

 

  1. Perdebatan

Perdebatan khususnya perdebatan yang tidak bermanfaat dan tidak produktif alias debat kusir adalah perkara kelima yang bisa merusak ukhuwah Islamiyah.  Hal itu karena adanya kecenderungan diri dan tipuan dari setan yang pada hakikatnya hanyalah setiap pihak membela dirinya dan kebesarannya.

Dengan perdebatan semacam ini hilanglah ukhuwah dan lenyaplah keakraban. Dan benarlah Rasulullah ﷺ yang bersabda,

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الأَلَدُّ الخَصِمُ

Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras permusuhannya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدَىً كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ

Tidaklah suatu kaum itu tersesat setelah mereka dahulu berada di atas petunjuk kecuali karena mereka suka berdebat.”

Kemudian Rasullah ﷺ membaca ayat:

وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ ۚ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [Az-Zukhruf: 58] [Hadits riwayat At-tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu]

  1. Pembicaraan Rahasia

Pembicaraan rahasia atau an-najwa adalah Perusak ukhuwah yang terakhir sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. [Al-Mujadilah: 10]

Dalam kitab Tafsir Muyassar disebutkan tafsir dari ayat ini adalah: Sesungguhnya berbicara secara rahasia dengan sesuatu yang mengandung dosa dan permusuhan adalah bagian dari godaan setan.

Setanlah yang menghiasinya dan yang mendorong kepadanya agar menyusupkan kesedihan ke dalam hati orang-orang mukmin, walaupun hal itu tidak membahayakan orang-orang mukmin sedikit pun kecuali dengan izin Allah dan kehendak-Nya. Dan hanya kepada Allah semata orang-orang Mukmin menyerahkan segala urusan mereka.

Perintah ini jelas dan sederhana namun memiliki makna mendalam bagi orang yang berfikir tentang bangunan hubungan yang benar di antara saudara sesama muslim. Berangkat dari sini Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا، فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ

Apabila kalian sedang bertiga maka janganlah yang dua orang dari kalian berbicara berbisik-bisik dengan meninggalkan orang ketiga. Sesungguhnya hal itu akan membuat dirinya merasa sedih.” [Hadits riwayat Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu.]

Rahasianya adalah sesungguhnya setan sangat ingin untuk mengganggu hubungan di antara orang-orang yang bersaudara karena Allah. Lalu setan membisikkan kepada orang ketiga yang ditinggalkan oleh dua orang temannya tadi,”Sesungguhnya dua orang temanmu itu sedang membicarakanmu, mentarget dirimu dan tidak menginginkan dirimu serta berbagai prasangka buruk lainnya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikianlah khutbah jum’at siang hari ini tentang enam perkara perusak ukhuwah Islmiyah yang seharusnya kita perhatikan dan sekuat tenaga harus kita hindari.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan untuk menganugerahkan kepada kita taufik dan hidayah-Nya untuk berpegang teguh dengan perintah untuk memelihara dan memperbaiki ukhuwah Islamiyah

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

أَمَّا بَعْدُ،

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ اَللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، وَأَكْرِمْنَا بِذِكْرِكَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمُنَّ عَلَيْنَا بِالتَّوْبَةِ وَالْإِنَابَةِ وَالْخَشْيَةِ

اَللَّهُمَّ تَجَاوَزْ عَنْ تَقْصِيْرِنَا وَسَيِّئَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا وَأَقْوَاتِنَا وَأَوْقَاتِنَا

اَللَّهُمَّ اكْشِفْ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ مَا نَزَلَ بِهِمْ مِنْ ضُرٍّ وَبَلَاءٍ، وَفَقْرٍ وَتَشَرُّدٍ، وَقَتْلٍ وَاقْتِتَالٍ، وَوَسِّعْ عَلَيْهِمْ فِي الْأَمْنِ وَالرِّزْقِ، وَجَنِّبْنَا وَإِيَّاهُمُ الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*