Edisi 135 Khutbah Jum’at : Meneladani Nabi Dalam Segala urusan

MENELADANI NABI DALAM SEGALA URUSAN

 

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan berbagai nikmat dan karunia-Nya yang tidak terhitung banyaknya, atas diri kita, keluarga kita, dan negeri kita ini.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita yang mulia , Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya serta semua kaum muslimin yang mengikuti sunnah beliau lahir dan batin dengan penuh keikhlasan dan kesabaran hingga hari kiamat.

 

Di siang hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian dan tentunya diri khatib pribadi untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada-Nya, karena dengan ketakwaan, Allah akan memberikan jalan keluar dari problem kehidupan yang kita hadapi, juga akan memberi kita anugerah yang melimpah tanpa disangka-sangka dari mana datangnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada setiap bulan Rabiul Awal kaum Muslimin disibukkan dengan persiapan penyelenggaraan acara peringatan Maulid Nabi ﷺ. Para panitia hari besar sangat serius menyiapkan acara penting ini yang biasanya berbentuk tabligh akbar.

Hanya saja, sering kali kaum Muslimin hanya terhenti pada mengikuti kegiatan tabligh akbar itu saja. Setelah itu, hampir tidak ada pengaruh nyata berupa sikap cinta kepada Rasulullah ﷺ yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Semestinya ini bisa dilihat dari tanda berupa semakin banyak sunnah nabi ﷺ yang ditekuni oleh seorang Muslim dan semakin banyak sifat mulia Nabi ﷺ yang diteladani oleh setiap Muslim. Demikian pula, mestinya gaya hidupnya juga semakin mendekati gaya hidup nabi ﷺ .

Jangan sampai terjadi kondisi yang bertentangan dalam kehidupan seorang Muslim yang sangat rajin mengikuti tabligh akbar peringatan Hari Maulid Nabi besar Muhammad ﷺ namun gaya hidupnya sebagai pribadi sangat jauh dari tuntunan Islam.

Demikian pula gaya hidupnya dalam berkeluarga. Yang menjadi model dan idola anak-anaknya dalam keluarga tersebut justru banyak berasal orang kafir barat yang tidak beriman kepada Allah dan nabi Muhammad ﷺ , tidak beriman kepada hari akhir, tidak takut kepada neraka dan tidak berharap kepada surga. ini sungguh ironi besar.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Nabi ﷺ adalah pribadi yang sempurna dalam imannya dan akhlaknya, sempurna dalam muamalahnya atau interaksi sosialnya dan sempurna pula dalam kepemimpinannya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Nabi ﷺ sebagai teladan yang menyeluruh dan sempurna.

Mari kita lihat beberapa aspek keteladanan dalam diri Nabi ﷺ :

  1. Teladan dalam Ibadah

Nabi ﷺ adalah teladan sempurna dalam masalah ibadah. Beliau banyak beribadah di malam hari sebagaimana digambarkan oleh istrinya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

 

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Nabibiasa bangun malam sampai kedua telapak kakinya luka terpecah, maka ‘Aisyah bertanya,”Wahai Rasulullah! Mengapa anda melakukan semua ini. Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah lalu maupun di masa datang?” Beliau ﷺ menjawab,”Tidakkah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

 

Selain itu beliau juga senantiasa berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di setiap keadaannya. Hal ini bisa diketahui dari berbagai hadits yang menghasung kaum Muslimin untuk banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

  1. Teladan dalam Akhlak

Mengenai akhlak, maka cukuplah gambaran ‘aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah ﷺ adalah al-Quran. Dalam sebuah hadits disebutkan:

 – سُئِلَتْ عائِشةُ عن خُلُقِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فقالَتْ: كان خُلُقُه القُرآنَ.

Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ lantas menjawab,”AKhlaknya adalah Al-Quran.” [hadits riwayat Ahmad (25813). Hadits ini shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth]

Maksud dari hadits ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Alaqi bin Abdul Qadiras-Saqqaf, adalah akhlaknya itu sedemikian sempurna sebagaimana digambarkan dalam al-Quran di setiap jenis akhlak.

Beliau melaksanakan apa yang Allah Ta’ala perintahkan dalam al-Quran, tidak melanggar apa saja yang Allah larang dalam Al-Quran baik berupa perkataan maupun perbuatan, janji dan ancaman-Nya dan seterusnya.

Jadi, akhlaknya adalah apa saja yang terdapat di dalam al-Quran dalam segala hal yang dipuji dan diserukan untuk berakhlak dengannya, beliau menghiasai dirinya dengannya dan apa saja yang diminta untuk dijauhi beliau menjauh darinya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa Al-Quran adalah sumber dari akhlak mulia. Hadits ini menyisyaratkan agar beradab dengan adab al-Quran dan berakhlak dengan akhlak al-Quran, mengambil petunjuk dari al-Quran, melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

  1. Teladan dalam Urusan Keluarga

Dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي» رواه الترمذي.

Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan Aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi]

Syaikh bin Baz rahimahullah mengatakan yang dimaksud dengan “ahlihi” “keluarganya” adalah istri-istrinya, anak-anaknya, ibu dan ayahnya.

Sedangkan menurut penulis Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ At -Tirmidzi, Syaikh Abdurrahman Mubarokfuri saat menjelaskan makna hadits ini mengatakan, maksudnya adalah anak dan istrinya dan yang memiliki hubungan rahim dengannya.

Ada juga ulama yang berpendapat, para istrinya dan para kerabatnya. Hal ini menunjukkan kebaikan akhlak seseorang. Dan Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling baik pergaulannya dengan keluarganya pada tataran akhlak yang paling agung.

  1. Teladan dalam Urusan Sosial

Nabi ﷺ adalah orang yang paling baik pergaulannya dengan masyarakat. Beliau bersikap tawadhu’ dan peduli serta perhatian kepada semua orang, bersikap penuh kasih dan ramah bahkan kepada anak-anak kecil dan orang-orang yang sudah tua.

Bila ada yang bersalaman dengannya maka beliau tidak pernah menarik tangannya sebelum orang itu menariknya. Bila sedang bertatap muka ddengan seseorang beliau tidak pernah memalingkan wajahnya sampai dia memalingkan wajahnya terlebih dahulu.

Dan beliau belum pernah menjulurkan kedua kakinya di hadapan orang yang sedang duduk bersamanya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi radhiyallahu ‘anhu.

Cukuplah firman Allah berikut ini menggambarkan betapa mulianya Nabi ﷺ hubungannya dengan para sahabat dan tetangganya dalam kehidupan bermasyarakat:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [At-Taubah: 128]

  1. Teladan dalam Kepemimpinan

Dalam masalah kepemimpinan atau leadership maka beliau adalah pemimpin paling adil yang pernah dikenal dalam sejarah kemanusiaan. Beliau sangat tegas dan konsisten dalam menjalan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hukum yang datang dari dzat yang Maha Adil, yang paling mengetahui apa yang terbaik dan paling bermaslahat buat para makhluk-Nya. Tidak mungkin ada kezhaliman walau sedikit pun dalam hukum Allah Ta’ala.

Bila hukum Allah ini dijalankan dengan sangat konsisten oleh seorang pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, pastilah masyrakat tersebut akan merasakan keadilan hukum benar-benar tegak di tengah-kehidupan mereka dan sirnahlah kezhaliman.

Sekedar satu bukti dari sekian banyak bukti yang ada tentang ketegasan dan konsistensi Rasulullah ﷺ terhadap hukum Allah subhanahu wa Ta’ala adalah kisah berikut ini:

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»

”Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan wanita dari Bani Makhzum yang mencuri (maksudnya tertangkap telah mencuri,pent). Mereka berkata, ‘Siapa yang bisa berbicara kepada Rasulullah ﷺ tentang wanita ini ?’

Mereka menjawab, ‘Siapa yang berani bicara kepada beliau kecuali Usamah ( bin Zaid ) yang dicintai oleh Rasulullah ﷺ.’ Maka Usamah pun berbicara kepada Rasulullah ﷺ (untuk membebaskan wanita itu dari hukuman, pent).

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, ‘Apakah kamu hendak memintakan syafaat (pengampunan dari hukuman) berkaitan dengan (hukum) had Allah?’ Rasulullah ﷺ berdiri lalu berkhutbah,

Wahai manusia, sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang memiliki kedudukan di antara mereka melakukan pencurian, maka mereka bebaskan.

Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum had atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fathimah binti Muhammad mencuri, aku benar-benar akan memotong tangannya.” [Al-Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688]

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk itu, marilah kita tingkatkan konsistensi kita dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ dari tahun ke tahun sehingga peringatan tentang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ itu benar-benar memberikan semangat baru yang lebih segar dan kuat untuk semakin memperkuat kecintaan kepada pribadi nabi ﷺ dan ajaran serta sunah-sunnah serta tuntunanya dalam kehidupan ini demi keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِوَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اَللهُمَّرَبَّنَا ظلمناأَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَالْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَاصِغَارًا

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً

وَقِنَا عَذَابَ النَّاِ وَقِنَا عَذَابَالنَّار,وَقِنَاعَذَابَ النَّارِ,سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 عِبَادَاللهِ.إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِوَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْلَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*